Selasa, 09 Januari 2018

Materi Kulwap With Bunda Irah

*TIPS MENJADI IBU YANG PERCAYA DIRI TERUTAMA DALAM HAL MEMBUATKAN MAINAN UNTUK ANAK*

1⃣ *Niat yang baik*
Niatkan dalam hati untuk ikut membersamai  si kecil dalam tumbuh kembangnya. Ada banyak niat baik yang bisa bunda tekadkan, seperti:
😇 *Niat mengenalkan keimanan pada Anak*
“saya ingin mengenalkan anak pada Tuhannya melalui mainannya”
Nah kalau udah kayak gini, bunda mana yang bakal minder bikin mainan.
Tapi mainan seperti apa ya Bund?
Pilihlah mainan yang sesuai dengan minat si kecil, mulailah dengan mainan yang murah dan berada di sekitar di kecil. Misal mainan dari alam. Mainan dari alam ini akan membuat anak-anak lebih termotivasi tentang keimanan, sebab nantinya ibu-ibu bisa menceritakan tentang siapa yang menciptakan, bagaimana asal usulnya dll sambil mengajari membuatnya.
😇 *Niat mengalihkan kesenangan anaknya dari gadget dengan dibuatkan mainan sendiri*
Gadget bukanlah barang yang harus dihindari oleh si kecil, karena ada sisi-sisi positif yang memang dimiliki oleh gadget. Tapi masalahnya, sekali si kecil dikenalkan, biasanya ada rasa “ketagihan” yang terus-menerus pada si kecil. Hal ini mungkin dikarenakan si kecil bosan dengan mainan-mainan yang telah ia miliki. Nahhh…jadikan ini niat buat Bunda  buat membuat mainan baru.
😇 *Niat membangun bonding (kedekatan) antara ibu dan anak*
Kedekatan dibangun dengan adanya interaksi yang baik. Interaksi seperti apa yang baik dilakukan ayah-bunda kepada anak-anak? yaitu interaksi yang dilakukan saat bermain. Karena bagaimanapun juga, tugas anak yaitu bermain jadi waktunya akan habis untuk bermain, dan disitulah bunda ikut membersamai

2⃣ *Memahami peran Bunda di rumah sebagai sekolah pertama bagi si kecil*
Banyak hal yang harus diajarkan oleh Bunda agar si kecil menjadi pandai dalam hal kemampuan kognitif maupun motoriknya. Salah satu caranya yaitu bunda memberikan pengetahuan sembari bermain. Nah jadikan ini menjadi salah satu motivasi Bunda untuk PD membuat mainan-mainan edukatif bagi si kecil

3⃣ *Hidup secara Sadar*
Sadar kalau sedang hidup, sadar bahwa ditakdirkan sebagai seorang ibu sehingga bersama partner hidupnya (red: suami) harus berusaha mendidik dan membersamai si kecil dengan sebaik-baiknya

4⃣ *Menerima kondisi kita dan berusaha meningkatkan kemampuan*
kalau berkaca dengan ibu-ibu yang sudah kreatif duluan pasti akan minder, lalu senantiasa menganggap diri ini lemah "ah saya kan gak se-kreatif Bunda A, jd maklum kalau anak saya nanti gak bisa sekreatif anak Bunda A". Begitu saja terus-menerus. Padahal jalan terbaik adl dgn merima kondisi bahwa posisinya sekarang sy belum bisa membuat anak-anak mainan sendiri, tp saya akan bisa kok kalau saya belajar, kan bisa lwt buku, youtube dll.

5⃣ *Keteguhan diri (tanpa kepalsuan), tdk hanya jujur pada diri sendiri termasuk juga pada saat berinteraksi dgn orang lain*
Contoh: sedang kumpul dengan ibu-ibu arisan (misalnya) untuk membuat mainan DIY anak-anak, padahal belum bisa, tapi berpura-pura bisa sehingga orang lain menganggap dan mengertinya bahwa kita bisa. Lalu karna khawatir ada pertanyaan sana-sini yang tidak bisa menjawab, akhirnya pertemuan berikutnya dan berikutnya absen. Coba kalau jujur dari awal, bisa sama-sama belajar dan belajar bersama-sama :) PD itu berasal dari perasaan yang nyaman ya, Bunda

6⃣ *Hidup dengan tujuan, terbebas dr opini orang lain*
Contoh: saat kita belajar untuk membuat mainan DIY untuk anak kita, tujuannya adalah belajar, yang semula belum bisa menjadi bisa. Jadi tajamkan tujuan ya Bunda, kalau tujuan uda tajam tdk akan goyah mendapat opini dari luar, misalnya "Halah kok ribet-ribet, kasih gadget aja anak uda anteng kok"

Senin, 25 Desember 2017

Pohon Iman

MasyaAllah, motivasi untuk diri sendiri "dimana bumi dipijak disitulah kita harus tumbuh dan menebar manfaat".
.
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.
QS Ibrahim 24-25
.
Yang dinantikan oleh dunia dari pohon iman kita adalah rasa buahnya, sementara kita telah lama membanggakan akar yang teguh, pokok yang kokoh dan rerantingan yang menjulang di langit sejarah. Selama ini, rasa buah dari iman kita mungkin belum menyapa mulut mulut kehausan, perut perut kelaparan dan tubuh tubuh lunglai yang merindukan gizi kemanfaatan. (Dalam Dekapan Ukhuwah - Salim A. Fillah)
.
Bukankah surga itu kita dapat karena Ridho Nya? Dan manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat untuk umat Nya?

Rabu, 23 Maret 2016

Perkembangan Motorik Kasar Anak 2-4 Tahun

Perkembangan Motorik Kasar Anak Usia 2-4 Tahun
Hari/Tanggal: Rabu/23 Maret 2016
Pemateri: Chairunnisa Rizkiah, S.Psi
Peresume: Yulianti Eka S

Memasuki usia 2 tahun, bentuk tubuh anak mulai tumbuh menjadi lebih mirip tubuh orang dewasa. Figur bayi masih chubby dan banyak lipatan-lipatan lemak, sedangkan semakin lama bentuk tubuh anak lebih memanjang, terutama bagian tungkai (tangan dan kaki). Massa otot juga bertambah dan kemampuan koordinasi gerakan juga semakin baik (tentunya dengan dibantu juga dengan stimulasi). Kematangan secara fisik ini memungkinkan anak untuk melakukan kegiatan fisik yang sebelumnya tidak bisa dikuasainya.

Kemampuan gerak dasar dibagi menjadi tiga kategori, yaitu:

Locomotor : kemampuan untuk memindahkan tubuh dari satu tempat ke tempat lain atau untuk mengangkat tubuh ke atas. Contoh gerakannya adalah melompat-lompat seperti kelinci atau meloncat ke depan dan belakang. Kemampuan gerak lainnya adalah berjalan, berlari, meluncur ke bawah (misalnya dari atas gundukan tanah), dan galloping (berlari seperti kuda)Non locomotor : kemampuan untuk melakukan gerak yang dilakukan di tempat. Kemampuan non locomotor terdiri dari menekuk dan meregangkan tubuh (misalnya membungkuk menyentuh ujung kaki), mendorong dan menarik (misalnya membuka pintu/lemari), mengangkat dan menurunkan (misalnya membawa barang dan meletakkannya), melempar, dan lain-lainKemampuan manipulatif. Dalam istilah perkembangan, kata “manipulatif” kira-kira berarti melakukan sesuatu terhadap benda, atau mengutak-atiknya. Dalam aspek motorik, kemampuan manipulatif banyak melibatkan tangan dan kaki, tetapi bagian lain dari tubuh kita juga dapat digunakan. Misalnya, memantul-mantulkan bola, membangun bentuk-bentuk dari mainan balok/Lego, meronce, dan membentuk kertas sesuai keinginan. Kemampuan ini biasanya memerlukan koordinasi mata dan tangan/kaki.

Sedangkan dari segi jenis otot yang digunakan, keterampilan motorik dibagi menjadi 2, yaitu motorik kasar dan motorik halus.

Motorik kasar: membutuhkan keseimbangan dan koordinasi antar anggota tubuh, dengan menggunakan otot-otot besar (misalnya seluruh badan, otot lengan dan kaki). Pada anak usia 2 tahun, aktivitas motorik kasar yang sudah dikuasai antaranya adalah anak mulai bisa  berlari, bangun sendiri saat jatuh, serta mengambil dan meletakkan benda. Sedangkan anak usia 3-4 tahun pada umumnya sudah mulai bisa melakukan hal berikut:

Berhenti berjalan dan berlari, atau berpindah arah saat berjalan dan berlari, dengan cepatNaik tangga dengan kaki bergantian, turun tangga dengan mengandalkan satu kakiLompat dengan dua kaki sejauh 30-60 cm, ada juga yang sudah mulai bisa lompat dengan satu kakiMenjaga keseimbangan (misalnya naik papan titian)Lempar-tangkap bola dengan gerakan tubuh bagian atas (biasanya mendekap bola ke dada). Kegiatan lempar tangkap bola juga membutuhkan koordinasi mata-tanganMengendarai sepeda roda tigaMeniru gerakan, misalnya saat berolahraga atau saat menonton gerakan di video. Kemampuan ini juga berhubungan dengan kemampuan kognitif anak.

Motorik halus: kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan fisik yang melibatkan otot kecil (misalnya otot-otot ujung jari) serta koordinasi mata dan tangan (hand-eye coordination). Contohnya: meronce, memegang alat tulis dan membuat coretan, merobek kertas, menempelkan benda, mengambil benda dengan ujung jari. Anak usia 2 tahun sudah mulai belajar memegang benda dengan ujung jari, membuat coretan (scribble), dan membalik halaman buku. Anak berumur 3-4 tahun pada umumnya sudah bisa melakukan hal-hal berikut:

Membangun menara dari balok- balokMemasukkan tali atau benang ke dalam lubang (misalnya meronce manik-manik)Menggambar garis-garis silang dan lingkaranMemanipulasi obyek tanah liat/playdough dengan membuat bentuk-bentukMengambil dan menyusun potongan-potongan puzzle sederhanaMenggunakan peralatan makan (sendok dan garpu)Menggunakan gunting, menggunting dengan mengikuti garis tanpa terputusMenelusuri garis dengan alat tulis (tracing). Anak bisa menelusuri garis untuk menggambar bentukMeniru gambar bentuk dasar (misalnya kotak, segitiga, lingkaran). Kemampuan ini akan sangat berperan saat anak belajar menulis huruf dan angkaSebagian anak juga mulai menulis beberapa huruf capital yang mudah (misalnya I, A, O, T, L)membuka dan menutup kotak

Kecepatan perkembangan motorik anak mungkin akan berbeda-beda. Ada anak yang lebih cepat menguasai keterampilan motorik halus, ada juga anak yang lebih unggul di motorik kasar. Ada pula anak yang butuh waktu lebih lama untuk menguasai keduanya. Seperti halnya aspek lain dalam perkembangan, hal ini dipengaruhi oleh dua faktor yaitu: (1) faktor bawaan dan (2) pengasuhan. Faktor bawaan menentukan kematangan anak, atau kesiapannya untuk mempelajari keterampilan baru. Misalnya, anak usia 24 bulan belum bisa naik sepeda roda dua walaupun diberi stimulasi yang sangat banyak, karena otot-ototnya belum cukup kuat dan keseimbangannya belum cukup. Di sisi lain, faktor pengasuhan (nurture) juga mempengaruhi kecepatan dan keluwesan anak dalam melakukan gerak motorik kasar ataupun halus. Kedua faktor ini saling berhubungan dalam menunjang atau justru menghambat perkembangan anak.

Selanjutnya mungkin bisa kita bahas lebih banyak lewat tanya jawab yaa...

💡💡💡💡💡💡💡

Tanya Jawab Motorik Kasar RMA 5-7

1⃣Assalamualaikum, mba. Putri saya usianya 24m12d, di kuesioner praskrining untuk anak 24m, anak dapat berjalan naik tangga sendiri dengan posisi tegak/ brpegangan pada pegangan tangga. Sedangkan anak saya naik tangga baru bisa merangkak/berpegangan pada seseorang. Bagaimana cara menstimulasi agar bisa naik tangga sendiri? Dan apa efeknya jika belum bisa berjalan naik tangga sendiri?
Terimakasih
(Ajeng, Afizah Lubna,  24m, RMA5)

Jawab:
Wa'alaikumsalam wr wb mba Ajeng. Rentang anak bisa naik-turun tangga tanpa berpegangan itu di usia 24-36 bulan kok, Bun. Jadi, gapapa InsyaAllah masih wajar jika usia 24m ini masih merangkak. Bunda bisa mulai ajak anak naik-turun tangga yg agak ceper (tidak terlalu tinggi2 jarak tangga yg satu ke tangga yg lain). Carilah tangga yg ada pegamgan di sisi kanan/kirinya sehingga anak dapat berpegangan. Di awal2 anak akan lebih mudah naik-tueun tangga dengan berpegangan dibadingkan langsung tanpa ada pegangannya. Stimulasi lain untuk menguatkan otot kaki yg dapat Bunda lakukan ialah: ajak anak untuk memanjat, berjalan jinjit, mengangkat sebelah kaki, dan juga melompat dengan kedua kaki jatuh secara bersamaan. Tetap semangat (Sarah)

2⃣ Bagaimana pembagian porsi bermain motorik kasar, halus, bahasa, dll?
Bagaimana menyemangati anak yang masih takut bermain motorik kasar yang menantang? Misal memanjat tali, dll.
(Dwi, depok. 3y. rma 5)

Jawab:
Halo, Mba Dwi. Mba Dwi dapat memberikan stimulasi kepada anak senyaman anaknya saja. Tidak ada targetan khusus setiap hari harus berapa aspek perkembangan yang distimulasi. Boleh disesuaikan dengan aktivitas orang tuanya juga. Waktu yang dibutuhkan untuk memberikan stimulasi pada anak pun tentunya berbeda-beda tiap anak. Saat bermain sesuatu pun, akan berbeda-beda durasinya. Ada anak yang betah main puzle hingga berulang kali, namun ada pula yang hanya satu kali. Ada anak yang betah main air hingga satu jam, namun ada pula yang hanya bertahan 10 menit, sehingga tidak bisa disamaratakan pada tiap anak. Namun, alangkah baiknya jika setiap harinya semua aspek tetap diperhatikan perkembangannya. Hal yang perlu diperhatikan ialah, anak enjoy saat diberikan stimulus. Selain itu, setidaknya dalam sehari ada waktu 2 jam untuk waktu khusus quality time bersama anak agar ikatan bonding anak dengan orangtua semakin erat. Dua jam di sini tidak serta merta harus bermain saja selama dua jam. Namun  termasuk juga makan bersama, memandikan, berdongeng sebelum tidur, membaca buku bersama, dan sebagainya.
Untuk permainan yang menantang, dicari tahu dulu ya Bun faktor apa yg membuat anak takut. Apa pernah jatuh? Takut ketinggian? Pernah ditakut-takuti? Trauma? Dll Memanjat tali bisa dilakukan dengan memberi contoh dahulu, mengajak anak naik bersama-sama, memegangi anak, laku memberi semangat pada anak. Kalau anak belum mau, bisa dikurangi dulu tingkat menantangnya, tidak usah dipaksa, apalagi diomeli, hehe. Sabar ya, Bun. Akan ada masanya anak2 nanti berani melakukannya. Tetap disupport dan diberi kesempatan plus kepercayaan saja. Tetap semangat. (Sarah)

3⃣Assalamu alaikum bun. Anak ku umurnya 2th dia kalau jalan tuh kadang suka jatuh2 sendiri. Itu kira2 apa karena otot kakinya kurang kuat atau berhubungan sama tulangnya yaa. Terus kira2 cara menstimulasinya gimana yaa soalnya kadang  susah banget disuruh jalan sendiri jd mintanya gendong aja..
(fitria puspitawati, surabaya, otto, 2y, RmA 6)

4⃣Assalamu'alaikum.saya ingin bertanya.
Anak saya Qina (2y2w), motorik kasar untuk berlari masih kurang terampil. Beberapa kali masih terjatuh. Apakah stimulasi yg bisa dipakai untuk merangsangnya. Sejauh ini keseringan bermain motorik halus. Motorik kasar biasanya saya ajak melompat dan kejar bola.
Terimakasih
(Yuli-bintaro-Qina 2y2w-RMA 6)

Jawab no 3&4
Wa'alaikumsalam wr wb. Mba Fitria dan Mba Yuli yang baik..
Terkait keseimbangan bisa jadi ini karena adalah masalah di motor planningnya, kurang berkembangnya indera vestibular (indera keseimbangan). Bunda bisa fokus untuk melatih indera keseimbangan dan koordinasi geraknya. Indera vestibular ini adalah indera yang paling pertama berkembang sebenarnya, sudah sejak dari rahim dan sangat berperan dalam kemampuan motorik kasar anak, bagaimana anak duduk, berdiri, berjalan, dan berlari dengan baik. Indra vestibular membantu seseorang untuk melakukan kegiatan yang berhubungan dengan ketinggian, perubahan posisi, gerakan cepat,
serta meluncur ke berbagai arah.
Bunda bisa.melakukan stimulasi indra vestibular di antaranya dengan banyak3 melakukan: bermain ayunan (usahakan kaki anak menyentuh tanah), melakukan gerakan berputar, naik komidi putar, menari dengan gerakan tertentu, naik skuter, berayun di atas selimut, melompat, dan jungkir balik. (Sarah)

5⃣Bagaimana cara menstimulasi gerakan motorik halus dlm hal menulis, bersepeda? Anakku masih kurang sabar dalam belajar mengayuh, menulis, mewarnai pun msh blm bisa mengikuti aturan,misalnya gambar balon bulat, saya sdh ajarkan mewarnai hingga tidak mengenai garis, tp msh bulat2 kecil,trs selesai ga mau lanjut, bagaimana cara menstimulasi keseimbangan anak? Di sekolah, anak saya lebih menonjol hafalan drpd menulis, apakah ini dominan otak kiri?
(Darsini, Cikarang, Faris, 3y1m, RMA6)

Jawab:
Buda Darsini yg baik, maafkan karena peraturan kita "just one question for one person" maka saya hanya bisa jawab 1 dr sekian banyak pertanyaan yg Bubda ajukan, ya. Untuk pertanyaan ttg sepeda bisa dicek di jawaban untuk pertanyaan nomor 6. Terkait keseimbangan bisa dicek pada jawaban 3-4 ya, Bun.

Untuk belajar menulis memang bukanlah hal yang mudah. Bayangan jika kita harus menulis dengan tangan yang bukan tangan dominan kita, kurang lebih itu rasanya saat anak belajar menulis. Kita jadi lebih mudah pegal, dan wajar bila hasil goresan kita pun agak berantakan. Semua butuh proses, dan tahap awalnya adalah mengembangkan keterampilan pratulis.
Keterampilan pratulis di antaranya ialah:
-Kekuatan tangan dan jari
Kemampuan genggam alat tulis (pencil grasp). Posisi memegang alat tulis yang benar (tripod grip) akan membuat anak lebih nyaman dan bertahan lama untuk menulis.
- Koordinasi visual motorik.
Ini adalah kemampuan ketika mata dan tangan bekerja sama untuk menyelesaikan suatu tugas seperti menangkap bola, menyentuh bubble yang melayang-layang, atau memasukkan koin ke celengan. Anak butuh keterampilan ini agar bisa menulis dengan rapih.
-Koordinasi bilateral.
Ini adalah kemampuan untuk memakai kedua tangan secara bersama-sama, dimana tangan yang satu jadi pemimpin dan tangan yang lain menjadi pendukung. Misal, waktu kita buka toples (satu tangan menahan badan toples, satu membuka tutup), meraut pensil (satu memutar pensil, satu menahan rautan), atau menggunting kertas (satu tangan menggunting, satu memegang kertas).
- Kekuatan tubuh bagian atas dan kontrol postur.
Kalau kita menulis dalam jangka waktu yang lama, lama-lama leher, punggung, dan bahu akan terasa pegal bukan? Bila sudah merasa pegal, tentu kita jadi malas menulis. Sama dengan anak. Kalau anak belum punya kekuatan tubuh dan kontrol postur yang baik, bisa buat anak malas menulis karena baginya menulis itu melelahkan.
- Kemauan untuk menulis.
Ini sangat penting untuk dipupuk. Biasanya anak akan lebih tertarik seiring dengan meningkatnya kesadaran terhadap warna, bentuk, huruf, dan gambar di lingkungan kesehariannya.

Lalu, stimulasi apa yg diperlukan agar anak lebih siap menulis?
-Permainan sensori
Beri anak kebebasan bermain dengan beras, kacang-kacangan tepung, playdough, water beads, jagung, cat, pasir, atau lainnya. Biarkan anak meremas, memilin, menjumput, menabur, atau eksplorasi material dengan caranya sendiri. Biasanya memang akan berantakan, tapi ini dapat membantu anak untuk melatih kekuatan tangan dan jemari serta kemampuan manipulasi obyek.
-Aktivitas motorik halus
Berbagai aktivitas motorik halus dapat melatih berbagai keterampilan pratulis seperti koordinasi mata tangan, persepsi visual, koordinasi bilateral, kekuatan otot tangan dan jari, serta manipulasi obyek. Aktivitas yg dapat dilakukan: merobek kertas, menghias gambar dengan kertas krep, memasang dan melepas kancing, membuka dan menutup resleting, memasukkan water beads ke dalam botol, memasukkan koin ke celengan, menjepit dengan jepit jemuran, main semprotan, meremas spons, dll.
-Aktivitas motorik kasar
Walau sepertinya tidak berhubungan dengan menulis, aktivitas motorik kasar juga diperlukan untuk melatih kekuatan tubuh bagian atas dan kontrol postur, serta koordinasi mata tangan dan bilateral. Contoh kegiatannnya:
lempar tangkap bola, memindahkan benda dari keranjang satu ke keranjang lainnya, senam dengan gerakan silang, seperti tangan kanan sentuh jempol kaki kiri dan siku kiri sentuh lutut kanan, maupun arah sebaliknya.
-Aktivitas dengan kertas dan alat tulis
A. Menggambar
Untuk awal, sebaiknya pakai alat tulis berukuran besar. Untuk mendorong tripod grip, bisa pakai alat tulis khusus yang batangnya berbentuk segitiga.
B. Mewarnai
Mulai dari gambar sederhana dan besar-besar, pelan-pelan baru naik tingkat ke gambar yang banyak detailnya. Tidak perlu terlalu dikomentari bila anak belum mampu mewarnai dalam garis.
- Tracing
Ajak anak menelusuri gambar-gambar bentuk dengan tangan maupun alat tulis. Pilih gambar yang anak suka, misalnya hewan-hewan atau pesawat, supaya lebih semangat.

Terakhir, keterampilan menulis juga terkait dengan kemampuan ekspresi diri, bentuk komunikasi tertulis untuk menyampaikan ide yang kita punya. Jadi….sebagai orang tua juga kita perlu memberi banyak kesempatan buat anak untuk berpendapat dan membuat pilihan. Dorong kemampuan anak bercerita dengan sering mengajaknya mengobrol. Bonding antara orang tua dan anak pun jadi semakin kuat ^.^

Disarikan dari artikel "Mengembangkan Keterampilan Pratulis" www.rumahdandelion.com

6⃣ Anak saya 3,5 th belum bisa mengayuh sepeda roda 4. Belum bisa mengayuh memutar.. Entah krn berat atau apa.. Bagaimana melatihnya?
(Nine, Arka 3,5th, Magelang, RMA7)

Jawab:
Hai Bunda Nine, Untuk keterampilan mengayuh sepeda, berhubungan juga dengan kekuatan otot kaki. Kalau otot kakinya lemah, anak lebih sulit untuk mengayuh sepeda. Kekuatan otot kaki bisa ditingkatkan dengan kegiatan2 fisik seperti naik-turun tangga, berenang, berlari, dan squadjump (jongkok-berdiri). Tentunya dengan porsi yang tidak terlalu melelahkan utk anak ya. Anak juga bisa diberi tips, kalau mau naik sepeda salah satu pedal sepedanya (kiri atau kanan) ditaruh di posisi atas jadi lebih mudah utk mulai mengayuh. Selama latihan mengayuh sepeda, bisa juga anak diajak membuat goal, mau sampai seberapa jauh mengayuhnya. Kalau anak berhasil, bisa diberi reward berupa pujian atau benda lain yang sudah disepakati (sama, bisa pakai kesepakatan bersama juga). Selanjutnya goal itu ditambah jadi makin jauh. Jadi selain anak mampu secara fisik, anak juga punya motivasi untk meningkatkan kemampuannya. Faktor gizi juga berpengaruh utk perkembangan motorik, terutama motorik kasar. Kalau anak loyo dan lemas karena asupan gizinya kurang baik (misalnya kurang makan sayur dan buah) yg pertama harus ditingkatkan di antaranya pola makan anak. (Kiki

7⃣ Perbedaan anak aktif dan hiperaktif itu apa?
(Dian kumala sari /purbalingga /3,5y /RMA 7)

Jawab: Halo, Bunda Dian..
Anak-anak usia 2-4 tahun justru memang sedang aktif bergerak. Banyak orang tua yang ‘takut’ keaktifan tersebut ialah ADHD (hiperaktif). Kekhawatiran ini cukup sering disampaikan juga oleh orangtua murid2 yg saya ajar dulu. Kalau anaknya sangat banyak gerak, "on" terus ga capek2, jangan2 ADHD. Saya pernah punya murid yg didiagnosa ADHD saat usianya 3 tahun. Tingkat "keaktifan"nya beda dgn anak normal. Saat duduk, dia tiba2 lari dengan cepat dan mematikan lampu atau berlari ke luar kelas, cuma bisa duduk diam selama sekitar 10 detik, dan bisa lari keliling lapangan 10 kali tanpa istirahat. Seperti itu kira2 salah satu gambaran "hiperaktif" yang bisa dikategorikan ADHD. Kita perlu sangat hati2 mendefinisikan istilah "hiperaktif" dalam perkembangan motorik anak, khawatirya rancu dgn aktivitas gerak yang memang banyak dilakukan oleh anak di usia ini. Dengan demikian, kegiatan anak Bunda dapat dikatakan masih dalam kategori normal ya, Bun  (Kiki)

8⃣bagaimana agar anak tertarik bermain puzzel? Nay saya berikan puzzel tidak respon. Lebih suka bermain "kotor"
(Rizky_Jakarta_27bulan_RMA7)

Jawab:
Halo, Bunda Rizky. Kalau boleh tahu, puzzle berapa kepingkah yg diberikan pada Nay? Anak2 bisa tidak tertarik jika permainan yg kita berikan terlalu sulit atau terlalu mudah untuk mereka. Jika Bunda memberikan puzzle yg sudah belasan atau puluhan dan Nay tidak tertarik, bisa Bunda mulai dahulu dengan puzzle knob. Lalu naik ke puzzle 4 keping. Lalu puzzle 9 keping, dst. Naikkan jumlah kepingan puzzle saat anak sudah mampu menyusun puzzle yg lebih sedikit. Di awal2 anak bisa saja kesulitan memasang gambarnya. Bunda bisa mencari puzzle yg ada gambar utuhnya terlebih dulu sehingga anak bisa melihat contohnya, jika sudah mulai mahir, bisa dilakukan tanpa melihat gambar. Menyusun ouzzle bukanlah perkara hal yg mudah bagi anak, karena tiap keping puzzle pun anak harus berpikir mana yg bagian atas, kiri-kanan, atau bawah. Ada baiknya saat mula2 dikenalkan dengan puzzle, Bunda membantu meletakkan kepingan puzzle dengan gambar menghadap ke posisi bawah semua (jadi anak tidak melihatnya terbalik-balik). Bisa juga Bunda meletakkan keping puzzle tersebut agak dekat dgn posisi di bingkainya. Intinya, sebisa mungkin di awal anak diberikan keringanan dan kemudahan dulu saja Bun agar anak suka dan tertarik. Tetap semangat (Sarah)

9⃣Saya ingin bertanya bund, bagaimana supaya anak lebih sabar ulet ketika bermain motorik halus misal menggunting, meremas karena kalo beljar gunting gunting anaknya bilang  susah terus akhirnya dirobek sambil bilang  'bisa' terus kao bermain hal2 yg berkaitan dgn motorik halus jm 10 udah ngantuk minta tidur atau gampang jenuh tapi kalo main di luar main pasir, dorong2, naik2 kayanya kalo gak dirayu rayu pulang sampai jm 2 siang kuat mbak gak mau tidur,  terima kasih
(Elis/Bogor/ 2y7m/RMA7)

Jawab: Halo, Bunda Elis. Untuk keterampilan menggunting, anak biasanya mulai dari menggunting garis dulu. Garis lurus, zigzag, terus garis lengkung. Setelah itu anak mulai menggunting bentuk. Menggunting bentuk memang lebih rumit karena anak harus bisa menggerakkan gunting dengan satu tangan dan memutar kertas dengan tangan lainnya. Kalau menggunting bentuk garis kan arah kertasnya sama.
Kalau anak belum bisa menggunting bentuk bulat, bisa dilatih dulu dengan bentuk2 lain yang mirip : garis lengkung setengah lingkaran (misalnya anak menggunting gambar pelangi), atau bentuk seperti plester luka (yg ujung2nya lengkung). Latihan bentuk laom seperti persegi empat dan segitiga juga bisa dilanjutkan walaupun misalnga anak sudah bisa. Prinsipnya sama dengan menggunting bentuk bulat, tapi kalau bentuk bulat anak perlu lebih sering memutar kertas karena tidak ada garis lurusnya. Setelah itu bisa mulai menggunting bentuk bulat (lingkaran) yang besar, yang lebih mudah utk anak daripada bentuk bulat yang kecil. (Kiki)

💡💡💡💡💡💡💡
Follow Us :
Instagram : @rumahmainanak 
Fanpage FB : Rumah Main Anak
Website: www.rumahmainanak.com

Minggu, 20 Maret 2016

Perkembangan Motorik Kasar Anak 0-2 Tahun

Perkembangan motorik kasar anak usia 0-2 tahun
Oleh Puti Ayu Setiani

Pada umumnya, perkembangan motorik dibagi menjadi dua, yaitu:
Motorik kasar: aktivitas motorik yang mencakup ketrampilan otot-otot besar, seperti mengangkat leher, duduk, merangkak, tengkurap, dsb.
Motorik halus: aktivitas motorik yang melibatkan gerak otot-otot kecil , seperti menggambil benda menggunakan jari, menggambar, dan menulis.

Pada bayi yang baru lahir, gerak refleks merupakan gerak dominan yang ada pada bayi, namun gerak refleks akan tergantikan dengan gerak motorik kasar seiring berjalannya waktu. Gerak refleks juga berfungsi sebagai persiapan gerak yang disadarinya. Beberapa contoh gerak refleks pada bayi baru lahir antara lain:
Kedipan mata : terstimulasi ketika terdapat cahaya atau sentuhan tangan di dekat kepala. Bayi akan menutup kelopak matanya. Gerak refleks ini berfungsi untuk melindungi bayi dari stimulasi yang terlalu kuat. Nah, gerak refleks ini akan permanen sampai dewasa.
Mencari (rooting): bayi akan mencari arah sumber stimulasi dengan mulut ketika pipinya disentuh. Fungsinya membantu bayi untuk menemukan puting susu ibu.
Menghisap (sucking): bayi akan melakukan gerakan menghisap ketika ibu menyentuhkan puting susu ke ujung mulut bayi.
Moro: Bayi melakukan gerakan refleks dengan melengkungkan tubuhnya, mengerakkan kaki dan tangannya ke arah depan, dan mendongakkan kepalanya ke belakang. Refleks ini akan muncul karena stimulasi suara yang keras dan tiba-tiba.
Menggenggam (palmar grasp): bayi akan refleks menggenggam jari ketika jari telunjuk disodorkan padanya. Refleks ini mempersiapkan bayi untuk menggenggam dengan penuh kesadaran.
Refleks leher (tonic neck): peningkatan kekuatan otot (tonus) pada lengan dan tungkai sisi ketika bayi menoleh ke salah satu sisi. Gerak refleks ini berfungsi mempersiapkan bayi untuk gerakan menggapai sesuatu.

Ketika bayi menginjak usia 1 bulan, bayi mulai menggerakkan tangan dan kakinya ke atas. Bunda bisa menstimulasi bayi dengan menggantung mainan yang mencolok warnanya atau mengeluarkan bunyi. Atau bunda juga bisa menaruh mainan di sisi kiri dan kanan bayi agar bayi berkeinginan untuk menggapai mainan tersebut. Bunda juga dapat menstimulasi bayi dengan bernyayi sambil menggerak-gerakkan tangan dan kaki bayi.

Memasuki usia 2 bulan, tummy time sangat dianjurkan untuk merangsang gerak motorik kasarnya. Bunda bisa membaringkan bayi dalam keadaan tengkurap, lalu menstimulusnya dengan mainan yang berbunyi di sisi kanan, kiri, juga atasnya. Tengkurap juga dapat menguatkan otot perut dan leher bayi. Akan tetapi, Bunda harus memastikan posisi kepala bayi agar bisa bernapas. Bunda juga jangan terlalu memaksakan bila bayi menolak/menangis keras.

Memasuki usia 3 bulan, Bunda bisa menstimulasi bayi dengan menggerak-gerakkan kakinya seperti gerakan mengayuh sepeda. Di sekitar usia ini, bayi juga sudah mulai bisa menggenggam mainan seperti balok.

Rata-rata di usia 4 bulan, bayi sudah mulai bisa memiringkan badan ke kiri dan kanan. Bunda bisa menstimulasinya dengan memindahkan mainan secara perlahan ke sisi bayi agar ia memiringkan badannya dan juga mampu berguling. Posisi tummy time juga membantu bayi untuk melatih ototnya agar semakin kuat untuk membantunya saat ia belajar duduk. Bayi juga akan mulai belajar maju sehingga akan menguatkan otot lengannya.

Di usia 5 bulan, umumnya bayi sudah mulai bisa berguling ke satu arah. Bunda bisa memberikan bantuan/ mengajari bayi gerakan berguling bila bayi masih belum bisa melakukannya dengan baik. Rangsangan mainan juga sangat baik agar bayi memiliki keinginan untuk meraihnya. Bunda juga sudah mulai bisa menstimulasi bayi dengan cermin agar bayi melihat dirinya di cermin. Di usia ini bayi juga sudah bisa untuk menjejak di pangkuan Bunda. Bayi akan menaik turunkan badannya dan mengoceh kegirangan. Gerakan ini akan menambah kelenturan otot tubuh bayi.

Di usia 6 bulan, bayi sudah mulai bisa diposisikan untuk duduk. Posisi didudukkan melatih bayi agar mampu duduk sendiri. Di usia 7 bulan, bayi umumnya sudah bisa untuk duduk sendiri dan juga belajar merangkak. Saat memasuki fase ini bayi akan bereksplorasi. Bunda harus memastikan bahwa lingkungan ekplorasi bayi aman dari bahaya. Di usia 8 bulan bayi akan berusaha berpegangan dan mengangkat tubuhnya untuk berdiri. Akan tetapi, umumnya bayi belum bisa untuk duduk kembali tanpa bantuan.

Memasuki usia 9 bulan, bayi akan belajar berjalan dengan titah. Bayi sudah mampu untuk menapakkan serta melangkahkan kedua kakinya jika dipegang kedua tangannya. Di usia 11 bulan, bayi akan dapat berdiri sendiri dalam waktu kurang lebih 2 detik. Bayi sudah mampu mengontrol dirinya dan keseimbangannya semakin berkembang dengan baik. Memasuki usia 12 bulan, sebagian anak sudah siap untuk berjalan sendiri meskipun masih limbung. Akan tetapi, bila belum bisa berjalan di usia ini, jangan khawatir, karena rentang anak bisa berjalan sendiri dari usia 9-18 bulan.

Di usia 12 bulan, anak sudah mulai mampu untuk menyusun bangunan dari dua buah kubus. Mampu menaiki tangga dengan bantuan di usia 16 bulan, melompat di tempat di usia 23 bulan 2 minggu, dan berjalan berjinjit di usia 25 bulan. 

Sebagai catatan, patokan umur di atas didapat berdasarkan rata-rata karena kecepatan tumbuh kembang bayi berbeda antara satu dan yg lain. 

Semoga bermanfaat

Follow us :
Instagram : @rumahmainanak 
Fanpage Facebook : Rumah Main Anak 
Blog: www.rumahmainanak.blogspot.com

Kamis, 10 Maret 2016

Perkembangan Anak 4-6 Tahun

Perkembangan Anak Usia 4-6 Tahun
Oleh Juditha Elfaj

🎈Pendahuluan
Anak pada rentang usia 4-6 tahun merupakan individu yang sedang belajar menguasai tingkatan lebih tinggi dari bberapa aspek, spt gerakan, berpikir, perasaan, dan interaksi dengan lingkungannya. Ia sedang mengalami perubahan perilaku dari tidak matang menjadi matang, dari sederhana menjadi kompleks, dan dari ketergantungan menjadi lebih mandiri. Perkembangan ini tentunya ditujukan pada perubahan yang sistematik, progresif, dan berkesinambungan.
Adalah hal yang penting bagi kita sbg orangtua utk memahami perkembangan anak usia ini, agar dapat membantu proses pembelajaran anak serta memberikan perlakuan yang tepat kepadanya.

🎈Karakteristik
Menurut Montessori (Hurlock, 1978), anak pada usia 3-6 tahun berada pada masa sensitif, dimana suatu fungsi perlu dirangsang dan diarahkan agar tidak terhambat perkembangannya. Misal, fungsi kemampuan bicara. Jika pd periode ini tdk dirangsang (distimulasi, dilatih, dll), maka anak akan mengalami kesulitan di masa berikutnya. Selain itu, pd masa ini anak jg sensitif thdp keteraturan lingkungan, eksplorasi lingkungan thdp objek kecil dan detail, serta sensitif thdp lingkungan sosial.
Erikson (Helms & Turner, 1994) memandang pribadi usia 4-6 thn sebagai fase sense of invitiative. Pd periode ini anak hrs didorong mengembangkan inisiatif atau prakarsa. Jika ia tdk mendapat hambatan dr lingkungannya, maka anak akan mampu mengembangkan prakarsa dan daya kreasinya, sehingga ia mampu tumbuh dengan percaya diri dan mandiri. Namun, jika ia terlalu sering mendapat larangan dan teguran, anak dapat diliputi perasaan guilty atau bersalah. Oleh krn itu, kepercayaan, kasih sayang, dan komunikasi yang baik dapat mendukung keberhasilan kita mendapingi perkembangannya pada masa ini.
Menurut pakar pendidikan Islam Asy Syantut (1994), selepas usia 4 tahun anak mulai mengenal dan meniru orang-orang di sekitarnya selain orangtuanya. Oleh karena itu, selain menyediakan lingkungan yang baik, kebiasaan-kebiasaan baik dari orangtua yang membentuk perilaku yang kuat pada anak harus sudah disiapkan pada masa sebelumnya.

🎈Ciri Perkembangan Usia 4-6 tahun
☆ mulai mampu memnuhi kebutuhan fisik scr sederhana
☆ mulai mengenal kehidupan sosial : berkawan, mengikuti aturan, dll
☆ masih memerlukan perlindungan org lain
☆ mampu meniru kesibukan orang dewasa lewat permainan
☆ mulai tumbuh dorongan mengeksploitasi lingkungan, ditandai dengan sering bertanya utk mengumpulkan informasi

Adapun perkembangan anak usia 4-6 tahun di berbagai aspek (motorik, kognitif, bahasa, dll) akan dibahas pada tulisan berikutnya.
Semoga bermanfaat.
Terima kasih.

Follow Us :
Instagram : @rumahmainanak 
Fanpage FB : Rumah Main Anak
Web: www.rumahmainanak.com